Keropos Tulang
| Konsumsi Kalsium untuk Cegah Osteoporosis | ![]() |
![]() |
|
BANYAK orang tidak menyadari kalau osteoporosis atau penyakit keropos tulang merupakan pembunuh tersembunyi (silent killer). Penyakit ini hampir tidak menimbulkan gejala yang jelas. Sering kali osteoporosis diketahui justru ketika sudah parah. Contoh kasus seorang terpeleset ringan, Namun ternyata yang dialami tulangnya patah di bagian lengan atau pinggang. Karena itu, tidak heran kalau banyak ahli mengatakan untuk menghindari osteoporosis tidak bisa dilakukan sekali saja, tetapi harus melalui proses yang dimulai dari pencegahan sejak dini. Karena patah tulang yang dialami seseorang saat ini, sebetulnya tidak lepas dari kebiasaan masa lalu. Misalnya, kurang mengonsumsi kalsium, jarang berolahraga, tidak mengonsumsi gizi seimbang, dan mengisi kegiatannya dengan gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, minum minuman beralkohol, dan lain sebagainya. Pola makan dan hidup seperti itu bisa mendorong terjadinya osteoporosis Apa sebenarnya yang dimaksud dengan osteoporosis? Osteoporosis adalah kondisi di mana tulang menjadi rapuh dan mudah retak atau patah, karena kekurangan kalsium. Osteoporosis umumnya lebih banyak diderita kaum wanita. Karena itu jumlah wanita yang terserang osteoporosis lebih banyak daripada pria. Terutama mereka yang memasuki masa menopause atau berusia di atas 40 tahun. Menurut dr Franky Hartono SpBO dari RS Siloam Graha Medika, kepada Media beberapa waktu lalu, pengeroposan tulang lebih banyak 1% dialami wanita, terutama pada masa postmenopause. Dan 50% wanita menopause mengalami osteoporosis (Media Rabu,20/10). Namun penelitian terakhir menunjukkan, osteoporosis tidak lagi didominasi mereka yang telah memasuki masa menopause. Mereka yang tergolong muda pun bisa terkena osteoporosis akibat perubahan gaya hidup dan pola makan. Faktor-faktor yang membuat seseorang lebih rentan terkena osteoporosis. 1. Memiliki massa tulang yang rendah 2. Memiliki kerabat dengan riwayat osteoporosis 3. Berkelamin wanita 4. Memiliki ukuran tulang yang kecil 5. Kurang hormon estrogen, terutama setelah menopause 6. Rendah asupan kalsium 7. Mengonsumsi obat yang mengandung kortikosteroid 8.Rendahnya kadar testosteron (pada pria) 9.Kurang olahraga dan aktivitas 10.Merokok dan mengonsumsi alkohol Bisa dicegah Kendati osteoporosis dikenal sebagai penyakit silent killer, tidak berarti kedatangannya tidak bisa diantisipasi. Osteoporosis sebenarnya bisa dicegah, tetapi dengan beberapa persyaratan. Ahli gizi dr Rachmad Soegih SpKG kepada Media beberapa waktu lalu juga menjelaskan, untuk mencegah osteoporosis, maka kebiasaan merokok, minum kopi, alkohol dan soft drink harus dikurangi. “Sebaliknya harus membiasakan mengonsumsi makanan mengandung kalsium tinggi seperti teri, udang rebon, kacang-kacangan, tempe atau minum susu,” jelasnya. Kenapa harus mengonsumsi kalsium? Menurut Rachmad, kalsium merupakan elemen mineral yang paling banyak terdapat di dalam tubuh. Pada berat tubuh 70 kg terdapat kurang lebih 1,200 gr kalsium. Dari jumlah tersebut, 99% berada dalam tulang rangka, sedangkan 1% berada di dalam jaringan lain dan cairan tubuh yang secara luas didistribusikan ke seluruh tubuh. “Mengapa kalsium penting, karena untuk membantu proses pembekuan darah. Kalsium juga sebagai katalisator berbagai proses biologi dalam tubuh dan mempertahankan fungsi membran sel,” kata Rachmad. Karena itu untuk dapat mempertahankan keseimbangan kalsium diperlukan intake lebih dari 1.200 gr/hari untuk usia 51 tahun ke atas, dan 1.000 mg/hari untuk 19-50 tahun. Pada anak-anak yang sedang tumbuh absorpsi kalsium dapat mencapai 75%. Jadi, jika kekurangan kalsium tubuh akan mengambil cadangan di bank tulang. ”Semakin lama semakin banyak kalsium diambil, tulang semakin tipis dan kemudian keropos.” Tetapi, yang perlu diingat dalam mencegah osteoporosis, gizi saja ternyata tidak cukup tanpa dibarengi latihan fisik. Demikian dikatakan dr Tanya Rotika SpKO. Menurutnya, ada senam osteoporosis untuk mencegah terjadinya pengeroposan tulang. Pada balita caranya adalah dengan membiarkan mereka menopang tubuhnya sendiri melawan gravitasi bumi. Tetapi untuk orang dewasa, latihannya perlu ditambah dengan beban. Daerah yang rawan osteoporosis, kata Rotikan, pergelangan tangan. Bagian tubuh yang satu ini merupakan non weight bearing, tetapi ancaman. Demikian pula dengan melompat semakin besar impact-nya. “Karena itu penting melompat, cukup dua-tiga kali dari berat badan, maka jatuhnya bisa lima kali barat badan. Olahraga lompat bagus untuk menguatkan tulang. Tetapi yang perlu diingat adalah hanya boleh dilakukan bagi mereka yang ingin memperkuat tulang.” Sedangkan bagi mereka yang sudah terkena osteoporosis, kata Rotikan, harus melakukan olahraga tanpa beban. Terutama di daerah rawan keropos tulang, yaitu pada daerah tulang rawan bagian belakang, bagian pinggul, tulang paha, pergelangan kaki dan tangan. Jadi gerakan melompat tidak dianjurkan bagi penderita osteoporosis, karena dapat menyebabkan chrash gracture atau patah. Latihan yang dianjurkan harus law impact. Olahraga yang lakukan juga bisa sambil duduk. Dengan latihan itu terus menerus maka pasien bisa melakukan gerak lebih terlatih. Ada empat gerakan yang dilarang. Pertama, melompat, kedua membungkuk dengan posisi punggung ke depan, seperti gerakan mengambil sesuatu di lantai. Gerakan itu bisa menyebabkan tulang punggung dan tulang pergelangan kaki dan tangan patah. Ketiga, menggerakkan kaki ke samping atau ke depan melawan beban, dan berjalan di tempat licin, tidak rata serta bebatuan. Sedangkan empat gerakan yang dianjurkan, adalah aerobik ringan,jalan kaki, berenang, tidur tengkurap dengan menaikkan kaki beberapa inci dari lantai sampai beberapa menit. “Tentu saja sebelum mulai berolahraga harus pemanasan terlebih dahulu sekitar 5-10 menit kemudian peregangan. Pada akhir olahraga juga dilakukan pendinginan lebih lama supaya tubuh menjadi lentur.” (V-1) Sumber : Oleh Media Indonesia On Line |
||



INDONESIA
MALAYSIA